Langsung ke konten utama

Perbedaan Investasi dan Membungakan Uang

Apa perbedaan antara melakukan investasi dan membungakan uang?

Investasi dan membungakan uang
Investasi dan membungakan uang


Investasi adalah kegiatan usaha yang mengandung resiko karena berhadapan dengan unsur ketidakpastian sehingga perolehan kembalinya tidak pasti atau tidak tetap. Ketika uang atau harta diinvestasikan dalam bentuk suatu usaha, maka hasil dari suatu usaha akan diperoleh keuntungan. Keuntungan yang diterima setiap waktu tidak stabil atau tidak pasti, bahkan resiko kerugian akan diterimanya, baik itu kerugian usaha atau oleh faktor lain seperti iklim, bencana dan lain sebagainya. Sehingga seorang ivestor akan memperoleh hasil yang tidak menentu dan juga peluang mengalami resiko kerugian. Pembagian hasil kepada inverstor dihitung dari perolehan keuntungan.

Melakukan usaha yang produktif dan investasi adalah kegiatan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Membungakan uang adalah kegiatan usaha yang kurang mengandung resiko karena perolehan kembalinnya berupa bunga yang relatif pasti dan tetap. Pemilik modal tidak menanggung resiko, usaha untung atau tidak tetap mendapatkan pembagian bunganya. Pembagian ini dihitung berdasarkan besarnya dana yang dipinjamkan, bukan terhadap keuntungan.

Membungakan uang adalah kegiatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dapat dilihat pada Al Quran surat Luqman ayat 34:


إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡأَرۡحَامِۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسٞ مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدٗاۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٖ تَمُوتُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرُۢ ٣٤ 

Artinya:
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal

Surat Al Baqarah ayat 275:

ٱلَّذِينَ يَأۡكُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ فَمَن جَآءَهُۥ مَوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۖ وَمَنۡ عَادَ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٢٧٥

Artinya:
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya

Surat Al Imran ayat 130:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُواْ ٱلرِّبَوٰٓاْ أَضۡعَٰفٗا مُّضَٰعَفَةٗۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٣٠ 

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.


Apakah menyimpan uang di Bank Syariah termasuk kedalam katagori kegiatan investasi?

Menyimpan uang di bank syariah atau bank islam termasuk dalam katagori kegiatan investasi karena perolehany kembaliannya dari waktu ke waktu tidak pasti dan tidak tetap tergantung kepada hasil usaha yang benar-benar dihasilkan oleh bank sebagai pengelola dana. Hal ini menjadikan investasi melalui bank Islam lebih realistis dari pembiayaan uang secara accroaul di perbankan konvensional.



Sumber:
Apa dan bagaimana bank Islam, Karnaen Perwataatmadja dan Syafii Antonio, 1992.

Komentar

  1. Dengan membaca tulisan ini akhirnya kita dapat mengetahui mana rente dan yang investasi. Terima kasih sangat bermanfaat sekali.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mekanisme Pasar Dalam Konsep Islam

Dalam konsep Ekonomi Islam, penentuan harga dilakukan oleh kekuatan-kekuatan pasar,  yaitu kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran. Pertemuan permintaan dengan penawaran tersebut haruslah terjadi secara rela sama rela, tidak ada pihak yang merasa terpaksa untuk melakukan transaksi pada tingkat tersebut. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat An Nisa ayat 29:

Panasaran, Berapa Gaji Abu Bakar Saat Menjabat Khalifah?

Saat ini kita terbiasa mendengar kata gaji. Bagi yang berkerja di perusahaan atau dipemerintah pasti mendapatkan gaji. Lalu bagaimana sejarah penggajian dalam Islam pertama kali? Berapa sih besarnya gaji tersebut? Mari kita simak penjelasan di bawah ini.
Baca Juga : Problem Ekonomi dan Problem Manusia dan Bagaimana Pandangan Islam Gaji Untuk Khalifah Pertama - Abu Bakar Ash Shidiq Ra.
Setelah Rasulullah wafat, maka yang menjadi khalifah kaum muslimin adalah Abu Bakar Ash Shidiq RA. Meskipun sudah menjadi khalifah beluam masih memanggul beberapa lembar kain menuju pasar. Maka beliau ditemui oleh Umar bin Khaththab dan Abu Ubaidah Amir bin Al Jarrah. Umar bertanya kepada beliau kemana tujuannya. Abu Bakar menjawab "Saya akan berdagang untuk memenuhi keperluan-keperluan hidupku dan keluargaku".
"Jangan begitu" saran mereka, "karena kalau ini anda lakukan, anda tidak bisa sepenuhnya memenuhi hak rakyat. Tetapi bila anda mengurusi hak mereka, kami akan cukupi anda …